Maaf
Tata Cara Ibadah
Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Mei 2014
Penganut agama HANDPHONE ... tertabrak kereta api ...
Astagfirlohaladziem......Pulang dari renang tadi ada orang naik motor sambil telp di hp nyebrang rel kereta, padahal palang lintasan kereta sudah di tutup saking asyiknya telpon maju aja trus alhasil jadi deh tuh orang ketabrak kereta, telah di perlihatkan pelajaran yg sangat berharga . Semoga kita tetap berhati-hati dalam berkendara dan jangan bertepon saat menjalankan motor atau mobil anda.
(posting teman saya di Facebook, Selasa 27 Mei 2014)
Selasa, 16 April 2013
Gara-gara HP, pesawat jatuh !
Beberapa bulan yang lalu saya terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat Garuda. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang warga Jerman.
Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat.
Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya. Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin.
Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunaka HP didalam ruangan mesin turbin.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi, maka ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Rakyat kita ini memang High class... Handphone nya Mahal, Transportasi pake pesawat.
Tapi bodohnya gak ketulungan.
Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?
Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.
Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.
Bantu share yaa biar kita lebih waspada !
Support by http://bit.ly/SunglassCrosshair diambil dari posting di FACEBOOK oleh Oke2 dot com.
(jadi ingat film DONO KASINO --> PINTAR PINTAR BODOH"..
Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat.
Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya. Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin.
Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunaka HP didalam ruangan mesin turbin.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi, maka ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Rakyat kita ini memang High class... Handphone nya Mahal, Transportasi pake pesawat.
Tapi bodohnya gak ketulungan.
Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?
Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.
Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.
Bantu share yaa biar kita lebih waspada !
Support by http://bit.ly/SunglassCrosshair diambil dari posting di FACEBOOK oleh Oke2 dot com.
(jadi ingat film DONO KASINO --> PINTAR PINTAR BODOH"..
Kamis, 28 Maret 2013
MENYELAMLAH sendiri Dan Jangan hanya karena KATANYA
Sore itu ketika matahari mulai terbenam, aku bersama sahabatku Prasetyo asyik ngobrol di teras gardu RT. Kesederhanaan hidupnya tercermin dalam rutinitas sebagai seorang Lelaki/Suami dan Ayah yg nampak selalu tegar dan murah senyum dalam lingkungan keluarga kecilnya. Dalam obrolan kami ini ada hal yang membuatku tergelitik untuk mengetahui lebih dalam ttg prinsip hidup sahabatku ini. Ketika aku melontarkan pertanyaan apa yg bisa membuat Dia ini begitu tegar, murah senyum dan nampak bersemangat yg menyiratkan kebahagiaan dan kenyamanan dlm hidupnya.
Mas Prasetyo, apa sebenarnya yang membuat mas bgt semangat dan terkesan santai ( tdk ngoyo ) menjalani hidup ini, "aku berseloroh". Met, Urip kuwi nggur "sawang sinawang" sergahnya. Donyo brono dudu ukuran seng biso ndadekno menungso urip bungah utowo seneng, bgt mas Prasetyo menambahkan. Urip kuwi biso digawe gampang ugo biso digawe susah. Intine "Gampange wong Urip kuwi, Uripe wong Gampang. Angele wong Urip kuwi Uripe wong Angel". Intine Susah lan seneng kuwi ono njerone awake dhewe, dudu onok njabane awak. Dadine nek jarene piwulang Agomo, Surgo lan Neroko iku yo neng njerone awake dhewe seng wes diraksakno saiki dudu mengko lek wes tumekaning pati.
Sebelum mas Prasetyo melanjutkan pembicaraannya, aku menyela…"Lho, bukannya di dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Surga dan Neraka bisa ditemui di alam akherat nanti Mas ???" Mas pras menimpali, Lo iku lak jarene Tulisan nok Kitab Suci, opo sampeyan percoyo karo tulisan ???. Perkataan Mas Pras ini membuatku tertarik untuk melanjutkan diskusi sambil cangkruk di bale panjang sambil ditemani suguhan wedang Kopi Toraja oleh2 soko adikku teko sebrang. Dengan semangat akupun melanjutkan pertanyaan seperti di bawah ini :
Memet : Mengapa orang mesti beragama ?
Prasetyo : Siapa yang mengatakan mesti ?
Memet : Sejak kecil aku dinasehati untuk menjadi orang yang taat beragama, karena hanya dengan demikian orang akan masuk surga. Lebih khusus, lagi, aku juga diajari bahwa hanya yang memeluk Agama yang bener, yang bakal masuk surga.
Prasetyo : He, he…dan engkaupun percaya ?
Memet : Mau tidak mau, karena hanya dengan begitu aku bisa masuk surga. Siapa yang tak ingin masuk surga ?
prasetyo : Lantas, apa yang kau maksud dengan surga ?
Memet : Menurut berita yang kuterima, itu adalah sebuah tempat yang teramat indah, yang didalamnya ada kebun yang indah, sungai mengalir di bawahnya, dan yang paling menarik... ada bidadari-bidadari yang teramat cantik…
Prasetyo : Ooooo…. jadi engkau berjuang menjadi pemeluk agama yang taat agar bisa menikmati semua itu ?
Memet : Ya, kurang lebih begitulah….
Prasetyo : Bagaimana jika semua itu tak ada ? Apakah engkau masih akan taat beragama ?
Memet : aku belum memikirkannya….
Prasetyo : Ternyata… engkau itu pribadi yang tak ikhlash... kau berbuat sesuatu karena ada maunya… ada pamrihnya......
Memet : Bukan begitu… aku hanya mengikuti apa yang diajarkan kepadaku….
Prasetyo : He, he… kini engkau berkilah…… Tapi baiklah… apakah yang mengajarkanmu demikian, pernah melihat surga ? Apakah mereka tahu pasti bahwa surga itu ada ?
Memet : aku tak yakin... yang kutahu... mereka mengatakan surga itu ada karena itulah yang dikatakan Kitab Suci…
Prasetyo : Oh... jadi, diapun belum pernah tahu dan melihat sendiri…..
Memet : Lalu apa salahnya... bukankah yang dikatakan Kitab Suci itu pasti benar ?
Prasetyo : Yang bilang salah siapa ? aku hanya ingin tanya, apakah pemahamanmu, dan pemahaman orang-orang yang mengajarimu tentang yang dikatakan di dalam Kitab Suci itu pasti benar ?
Memet : Kalau boleh jujur, kemungkinannya bisa benar ya bisa salah…
Prasetyo : Lalu, apa yang bisa menjadi tolak ukur bahwa pemahaman itu benar atau salah…
memet : Bukankah... pemahaman terhadap Kitab Suci itu sudah baku ? Bukankah semua ulama memahami bahwa memang surga itu seperti yang dikatakan di dalam kitab suci, dan bahwa itu hanya diperuntukkan bagi orang beragama ?
Prasetyo : Itulah masalahnya…. kamu menganggap sesuatu yang cuma merupakan pemahaman, persepsi, hasil olah pikiran, sebagai sebuah kebenaran yang mutlak dan baku…
Memet : Lalu… bagaimana semestinya… ?
Prasetyo : Mari kita bicara tentang sebuah samudera. Menurutmu, bagaimana caranya agar kita bisa tahu tentang samudera itu ? Apakah kita sudah punya alat untuk mengetahuinya ?
memet : Dengan mataku, aku bisa melihat permukaan samudera yang biru… kadang aku bisa melihat kapal berlayar di permukaan samudera itu…
Prasetyo : Baik… lalu apa yang ada di balik permukaan samudera itu ? Ada apa di kedalamannya ?
Memet : aku bisa menduga-duga dengan pikiranku... mungkin di dalamnya banyak ikan… mungkin juga ada terumbu karang... atau barangkali ada kapal selam….
Prasetyo : Apakah pasti demikian yang ada di dalam samudera ?
Memet : Ya belum tentu…..
Prasetyo : Satu2nya cara untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam samudera itu kamu harus menyelam... kamu harus masuk ke kedalaman….
Memet : Tentu saja…
prasetyo : Lalu, bagaimana caranya agar kamu bisa tahu hakikat surga ?
Memet : Pertama, aku sekadar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang yang menurutku pintar… Kedua, aku gunakan akalku untuk menduga-duga seperti apa surga itu… Tapi, jelas, aku memang tak akan tahu banyak tentang surga jika begitu… Yang paling mungkin membuat aku tahu kebenaran surga... ya aku harus masuk dulu ke situ... aku harus menyaksikannya langsung….
Prasetyo : Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya ?
memet : Bukankah itu tak perlu ? Bukankah sudah ada kitab suci ? Bukankah sudah ada ulama yang membimbing kita ?
Prasetyo : Kalau kau tak lakukan, kau tak akan pernah tahu kebenaran sesungguhnya…kau hanya akan terus dalam praduga, prasangka…. bahkan sejatinya, kau juga tak akan tahu apakah yang selama ini kau yakini, yang kau terima sebagai ajaran dari sekian banyak orang yang kau anggap pandai itu, benar atau salah….
Memet : Kamu benar….. tapi mungkinkah ?
Prasetyo : Di dalam dirimu… sesungguhnya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi ?
Memet : aku tak pernah mendengar hal itu…
Prasetyo : Ha..ha…ha….
Memet : Mengapa tertawa...
Prasetyo : Kau naif sekali… Kau yakin sekali sebagai pemilik tunggal surga, tapi hal sepele begitupun kau tak tahu…
Memet : Ajari aku…. aku sadar bahwa aku memang naif...
Prasetyo : Untuk bisa menemukan gerbang itu... kau harus melakukan banyak hal : kau harus singkirkan kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu…
Lalu, kau sering-seringlah memasuki alam keheningan... buat pikiranmu diam sejenak... biarkan dirimu berhubungan dengan suara di dalam hatimu… Berikutnya…kau harus berbuat baik kepada semua yang ada di sekitarmu… termasuk kepada pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya…
Memet : Berat sekali….
Prasetyo : Ha, ha... begitu saja sudah berat kok yakin jadi pemilik surga….
Memet : Dalam hati aku misuh misuh pada diriku sendiri… Diampuuuuuuttt… aku memang GEMBLUNG...!!
Prasetyo : Ya sudah, berhubung sudah larut kita akhiri jagongan ini, istirahat dulu bukannya besok kau akan menyelam ??? nanti kau akan tahu sendiri keindahan di dalam laut setelah kau menyelaminya sendiri bukan dari cerita2 yg dutuliskan orang lain dlm buku.
Memetl : Ok, terima kasih sudah bersedia menemani dan mengantarkan saya menyelam besok pagi. —
Dari posting teman FB saya...
Mas Prasetyo, apa sebenarnya yang membuat mas bgt semangat dan terkesan santai ( tdk ngoyo ) menjalani hidup ini, "aku berseloroh". Met, Urip kuwi nggur "sawang sinawang" sergahnya. Donyo brono dudu ukuran seng biso ndadekno menungso urip bungah utowo seneng, bgt mas Prasetyo menambahkan. Urip kuwi biso digawe gampang ugo biso digawe susah. Intine "Gampange wong Urip kuwi, Uripe wong Gampang. Angele wong Urip kuwi Uripe wong Angel". Intine Susah lan seneng kuwi ono njerone awake dhewe, dudu onok njabane awak. Dadine nek jarene piwulang Agomo, Surgo lan Neroko iku yo neng njerone awake dhewe seng wes diraksakno saiki dudu mengko lek wes tumekaning pati.
Sebelum mas Prasetyo melanjutkan pembicaraannya, aku menyela…"Lho, bukannya di dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Surga dan Neraka bisa ditemui di alam akherat nanti Mas ???" Mas pras menimpali, Lo iku lak jarene Tulisan nok Kitab Suci, opo sampeyan percoyo karo tulisan ???. Perkataan Mas Pras ini membuatku tertarik untuk melanjutkan diskusi sambil cangkruk di bale panjang sambil ditemani suguhan wedang Kopi Toraja oleh2 soko adikku teko sebrang. Dengan semangat akupun melanjutkan pertanyaan seperti di bawah ini :
Memet : Mengapa orang mesti beragama ?
Prasetyo : Siapa yang mengatakan mesti ?
Memet : Sejak kecil aku dinasehati untuk menjadi orang yang taat beragama, karena hanya dengan demikian orang akan masuk surga. Lebih khusus, lagi, aku juga diajari bahwa hanya yang memeluk Agama yang bener, yang bakal masuk surga.
Prasetyo : He, he…dan engkaupun percaya ?
Memet : Mau tidak mau, karena hanya dengan begitu aku bisa masuk surga. Siapa yang tak ingin masuk surga ?
prasetyo : Lantas, apa yang kau maksud dengan surga ?
Memet : Menurut berita yang kuterima, itu adalah sebuah tempat yang teramat indah, yang didalamnya ada kebun yang indah, sungai mengalir di bawahnya, dan yang paling menarik... ada bidadari-bidadari yang teramat cantik…
Prasetyo : Ooooo…. jadi engkau berjuang menjadi pemeluk agama yang taat agar bisa menikmati semua itu ?
Memet : Ya, kurang lebih begitulah….
Prasetyo : Bagaimana jika semua itu tak ada ? Apakah engkau masih akan taat beragama ?
Memet : aku belum memikirkannya….
Prasetyo : Ternyata… engkau itu pribadi yang tak ikhlash... kau berbuat sesuatu karena ada maunya… ada pamrihnya......
Memet : Bukan begitu… aku hanya mengikuti apa yang diajarkan kepadaku….
Prasetyo : He, he… kini engkau berkilah…… Tapi baiklah… apakah yang mengajarkanmu demikian, pernah melihat surga ? Apakah mereka tahu pasti bahwa surga itu ada ?
Memet : aku tak yakin... yang kutahu... mereka mengatakan surga itu ada karena itulah yang dikatakan Kitab Suci…
Prasetyo : Oh... jadi, diapun belum pernah tahu dan melihat sendiri…..
Memet : Lalu apa salahnya... bukankah yang dikatakan Kitab Suci itu pasti benar ?
Prasetyo : Yang bilang salah siapa ? aku hanya ingin tanya, apakah pemahamanmu, dan pemahaman orang-orang yang mengajarimu tentang yang dikatakan di dalam Kitab Suci itu pasti benar ?
Memet : Kalau boleh jujur, kemungkinannya bisa benar ya bisa salah…
Prasetyo : Lalu, apa yang bisa menjadi tolak ukur bahwa pemahaman itu benar atau salah…
memet : Bukankah... pemahaman terhadap Kitab Suci itu sudah baku ? Bukankah semua ulama memahami bahwa memang surga itu seperti yang dikatakan di dalam kitab suci, dan bahwa itu hanya diperuntukkan bagi orang beragama ?
Prasetyo : Itulah masalahnya…. kamu menganggap sesuatu yang cuma merupakan pemahaman, persepsi, hasil olah pikiran, sebagai sebuah kebenaran yang mutlak dan baku…
Memet : Lalu… bagaimana semestinya… ?
Prasetyo : Mari kita bicara tentang sebuah samudera. Menurutmu, bagaimana caranya agar kita bisa tahu tentang samudera itu ? Apakah kita sudah punya alat untuk mengetahuinya ?
memet : Dengan mataku, aku bisa melihat permukaan samudera yang biru… kadang aku bisa melihat kapal berlayar di permukaan samudera itu…
Prasetyo : Baik… lalu apa yang ada di balik permukaan samudera itu ? Ada apa di kedalamannya ?
Memet : aku bisa menduga-duga dengan pikiranku... mungkin di dalamnya banyak ikan… mungkin juga ada terumbu karang... atau barangkali ada kapal selam….
Prasetyo : Apakah pasti demikian yang ada di dalam samudera ?
Memet : Ya belum tentu…..
Prasetyo : Satu2nya cara untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam samudera itu kamu harus menyelam... kamu harus masuk ke kedalaman….
Memet : Tentu saja…
prasetyo : Lalu, bagaimana caranya agar kamu bisa tahu hakikat surga ?
Memet : Pertama, aku sekadar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang yang menurutku pintar… Kedua, aku gunakan akalku untuk menduga-duga seperti apa surga itu… Tapi, jelas, aku memang tak akan tahu banyak tentang surga jika begitu… Yang paling mungkin membuat aku tahu kebenaran surga... ya aku harus masuk dulu ke situ... aku harus menyaksikannya langsung….
Prasetyo : Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya ?
memet : Bukankah itu tak perlu ? Bukankah sudah ada kitab suci ? Bukankah sudah ada ulama yang membimbing kita ?
Prasetyo : Kalau kau tak lakukan, kau tak akan pernah tahu kebenaran sesungguhnya…kau hanya akan terus dalam praduga, prasangka…. bahkan sejatinya, kau juga tak akan tahu apakah yang selama ini kau yakini, yang kau terima sebagai ajaran dari sekian banyak orang yang kau anggap pandai itu, benar atau salah….
Memet : Kamu benar….. tapi mungkinkah ?
Prasetyo : Di dalam dirimu… sesungguhnya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi ?
Memet : aku tak pernah mendengar hal itu…
Prasetyo : Ha..ha…ha….
Memet : Mengapa tertawa...
Prasetyo : Kau naif sekali… Kau yakin sekali sebagai pemilik tunggal surga, tapi hal sepele begitupun kau tak tahu…
Memet : Ajari aku…. aku sadar bahwa aku memang naif...
Prasetyo : Untuk bisa menemukan gerbang itu... kau harus melakukan banyak hal : kau harus singkirkan kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu…
Lalu, kau sering-seringlah memasuki alam keheningan... buat pikiranmu diam sejenak... biarkan dirimu berhubungan dengan suara di dalam hatimu… Berikutnya…kau harus berbuat baik kepada semua yang ada di sekitarmu… termasuk kepada pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya…
Memet : Berat sekali….
Prasetyo : Ha, ha... begitu saja sudah berat kok yakin jadi pemilik surga….
Memet : Dalam hati aku misuh misuh pada diriku sendiri… Diampuuuuuuttt… aku memang GEMBLUNG...!!
Prasetyo : Ya sudah, berhubung sudah larut kita akhiri jagongan ini, istirahat dulu bukannya besok kau akan menyelam ??? nanti kau akan tahu sendiri keindahan di dalam laut setelah kau menyelaminya sendiri bukan dari cerita2 yg dutuliskan orang lain dlm buku.
Memetl : Ok, terima kasih sudah bersedia menemani dan mengantarkan saya menyelam besok pagi. —
Dari posting teman FB saya...
Minggu, 03 Maret 2013
Tuhan Feminim & Maskulin
Tuhan Feminim & Maskulin
Secara garis besar Tuhan bisa dikenal melalui sifat feminim dan
maskulin. Pada pergantian siang dan malam terdapat tanda2 kekuasaan
Tuhan bagi mereka yang berpikir. Yaitu mereka yang mengingat Tuhan dalam
keadaan berdiri, duduk, atau berbaring. Siang mewakili sifat maskulin,
dan malam mewakili sifat feminim.
Kebanyakan spiritualis
mengenal Tuhan melalui pengalaman empiris hasil olah rasa saat melakukan
ritual yang fokus, doa yang sungguh2, atau pengalaman yang berkesan.
Cara mengenal Tuhan melalui pengalaman yang dirasakan merupakan cara
mengenal sifat feminim Tuhan. Cara ini sangat personal karena
membutuhkan kemampuan pemaknaan simbol2 yang dialami. Ini sesuai dengan
era pisces yang membuat aura perasaan / emosional di bumi mencapai
puncak kepekaannya.
Tulisan saya kali ini lebih menitik
beratkan pada cara mengenal Tuhan di era aquarius yang merupakan puncak
kecemerlangan aura logika / science. Ini berarti mengenal Tuhan melalui
sifat maskulin Nya. Pertama-tama kita harus meng-upgrade logika standar
kita ke advanced logic. Caranya adalah dengan membersihkan pengaruh ego
pada logika.
Untuk membersihkan logika dari ego, kita tidak
perlu menghapus ego kita. Kalo ego dihapus, maka manusia tidak punya
keinginan untuk berkembang. Yang benar adalah dengan mengembangkan ke-4
unsur ego hingga tercapai kondisi seimbang. Dalam Rukun Islam, syahadat
mengembangkan thingking intuiting, sholat mengembangkan thingking
logical, puasa mengembangkan thingking emotional, dan zakat
mengembangkan thingking sensing. Setelah itu ke-4 unsur ini dirangkai
untuk memaknai ibadah haji yang diakhiri dengan Makrifatullah (Arofah)
saat ego kita wukuf / diam. Ya benar, ke-4 unsur ego yang berkembang
sempurna akan membuat ego (nafsu) terdiam dalam keadaan seimbang.
Setelah selesai meng-upgrade logika ke bentuk advanced logic, maka kita
akan mampu memahami mekanisme cara kerja Tuhan yang berada di area
Fuzzy Logic yang menganut Uncertain Principle. Advanced logic mampu
memahami formula mekanisme cara kerja Tuhan dalam ketak-berhinggaan Nya.
Jadi Infinity itu mempunyai formula juga. Dalam rumus matematis
Infinity dikenal saat Yang Maha Esa dipahami oleh ketidak-berdayaan
hamba (~ = 1/0).
Manfaat memahami sifat maskulin Tuhan melalui
advanced logic adalah untuk meningkatkan keimanan dengan memahami
mekanisme cara kerja: penciptaan dunia, penghancuran dunia, penciptaan
kembali dunia, alam kubur, hari pembalasan, cara kerja pahala dan dosa,
cara kerja syurga dan neraka, cara kerja mukjizat, cara kerja doa, cara
kerja pembuatan kitab suci, cara kerja penulisan takdir, dan cara kerja
yang lainnya. Sehingga mengenal sifat maskulin Tuhan akan membuat kita
bisa memanipulasi cara kerja tersebut untuk mewujudkan keinginan yang
lebih besar dari ego. Jadi pemahaman ini adalah sebagai modal kita untuk
mewujudkan keinginan Tuhan di muka bumi. Tanpa pemahaman ini kita akan
menjadi hamba yang lemah yang kesulitan untuk harmonis dengan mekanisme
cara kerja alam semesta.
Kesimpulan:
Tuhan dapat dikenal
lewat sifat feminim Nya, dan dapat dipahami lewat sifat maskulin Nya.
Mengenal dan memahami Tuhan akan menyempurnakan keimanan kita.
Sesungguhnya orang beriman itu tidak takut akan pengurangan pahala dan
tidak takut pula akan penambahan dosa serta kesalahan. Sesungguhnya
orang beriman itu tidak khawatir (terhadap masa depan) dan tidak pula
mereka bersedih hati (terhadap masa lalu).
Sabtu, 05 Januari 2013
Agama apa yg paling baik?
Agama apa yg paling baik?
Seorang ahli dari kelompok "The Theology Of Freedom" dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya pd Dalai Lama pemimpin umat Buddha dari Tibet, "Yang Mulia, apakah agama terbaik?"
Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab,
"Agama Buddha dari Tibet ato agama Oriental yg lebih tua dari agama Kristen."
Ternyata sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab,
"Agama terbaik adalah agama yg lebih mendekatkan anda pada TUHAN, yaitu agama yg membuat anda mjd org yg lebih baik."
Sambil menutupi rasa malu karna punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lama,
Leonardo Boff bertanya lagi,
"Apakah tanda agama yg membuat kita mjd lbh baik?"
Jawaban Dalai Lama,
"Agama apapun yg bisa membuat anda
Lebih welas asih,
Lebih berpikiran sehat,
Lebih objektif & adil,
Lebih menyayangi,
Lebih manusiawi,
Lebih punya rasa tanggung jawab,
Lebih ber-etika.
Agama yg punya kualitas seperti di atas adalah agama terbaik."
Leonardo Boff terdiam sejenak & ter-kagum² atas jawaban Dalai Lama yg bijaksana & tdk dpt di bantah.
Selanjutnya, Dalai Lama berkata,
"Tidak penting bagiku kawan, Apa agamamu, Tidak peduli anda beragama ato tidak.
Yg betul² penting bagi saya adalah perilaku anda di depan kawan² anda, di depan keluarga, lingkungan kerja & dunia."
Akhirnya, Dalai Lama berkata,
"Jagalah pikiranmu, Karena akan menjadi perkataanmu.
Jagalah perkataanmu, Karena akan menjadi perbuatanmu.
Jagalah perbuatanmu, Karena akan menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, Karena akan membentuk karaktermu.
Jagalah karaktermu, Karna akan membentuk nasibmu,
Dan nasibmu.... Jadi nasib mu berawal dari pikiran mu... :)
(diambil dari posting teman di FACEBOOK - 6 Januari 2013)
Seorang ahli dari kelompok "The Theology Of Freedom" dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya pd Dalai Lama pemimpin umat Buddha dari Tibet, "Yang Mulia, apakah agama terbaik?"
Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab,
"Agama Buddha dari Tibet ato agama Oriental yg lebih tua dari agama Kristen."
Ternyata sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab,
"Agama terbaik adalah agama yg lebih mendekatkan anda pada TUHAN, yaitu agama yg membuat anda mjd org yg lebih baik."
Sambil menutupi rasa malu karna punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lama,
Leonardo Boff bertanya lagi,
"Apakah tanda agama yg membuat kita mjd lbh baik?"
Jawaban Dalai Lama,
"Agama apapun yg bisa membuat anda
Lebih welas asih,
Lebih berpikiran sehat,
Lebih objektif & adil,
Lebih menyayangi,
Lebih manusiawi,
Lebih punya rasa tanggung jawab,
Lebih ber-etika.
Agama yg punya kualitas seperti di atas adalah agama terbaik."
Leonardo Boff terdiam sejenak & ter-kagum² atas jawaban Dalai Lama yg bijaksana & tdk dpt di bantah.
Selanjutnya, Dalai Lama berkata,
"Tidak penting bagiku kawan, Apa agamamu, Tidak peduli anda beragama ato tidak.
Yg betul² penting bagi saya adalah perilaku anda di depan kawan² anda, di depan keluarga, lingkungan kerja & dunia."
Akhirnya, Dalai Lama berkata,
"Jagalah pikiranmu, Karena akan menjadi perkataanmu.
Jagalah perkataanmu, Karena akan menjadi perbuatanmu.
Jagalah perbuatanmu, Karena akan menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, Karena akan membentuk karaktermu.
Jagalah karaktermu, Karna akan membentuk nasibmu,
Dan nasibmu.... Jadi nasib mu berawal dari pikiran mu... :)
(diambil dari posting teman di FACEBOOK - 6 Januari 2013)
Selasa, 01 Januari 2013
."KORBAN AGAMA"...(???).
-(share)- .Dirumah seorang spritualis
malam itu, kedatangan sekelompok orang dari etnis diluar nusantara.
Mereka berlima, dan ketika di Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, masuk ke berbagai agama yang dianggap resmi di Indonesia.
Kelima orang ini, curhat kehadapan sang guru, bahwa mereka kecewa dengan agama yang mereka masuki. Setelah masuk agama yang terjadi mereka malah diperas atas nama agama, ada saja sumbangan yang harus dibayar, bahkan rumah Tuhan pun harus dibuatkan oleh manusia.. ( ini aneh-aneh saja, Rumah Tuhan dibangunkan manusia. Apa Tuhan memang tidak bisa membangun rumahnya sendiri?). Rumah-rumah ibadah dibuat mewah, diantara rakyat yang lapar, miskin dan papa.
Mereka yang dahulu kompak dan sering berbagi, sekarang seolah ada dinding tebal yang membatasi. Para pemimpin agama-agama itu mengajarkan permusuhan, siasat busuk dan egoisme tanpa dasar. Masing-masing agama merasa telah mengklaim surga atau nirwana-nya masing-masing.
Para ummat disuruh berperang bermandi darah, berkorban dengan harta dan jiwanya, sementara Para Pemimpin Agama berdiri mengangkang. Tersenyum dengan jubahnya, seolah tanpa salah dan khilaf. Suci dan Wibawa!. Sandiwara apa ini?
Perilaku institusi dan pemimpin agama masing-masing sungguh sangat menjijik-kan, mengajarkan sesuatu yang berbeda dari perilaku masing-masing. Lihatlah pemimpin agama itu ramai-ramai ketangkap polisi karena kasus korupsi, kenakalan kelamin, dan tindakan pidana lainnya. Mereka bicara tentang akhlak, susila, sopan santun, paramitha, dlsb.
Tapi nyatanya, pertumpahan darah oleh alasan agama kian marak. Satu agama adalah kekejaman bagi agama lainnya. Dan lebih nista lagi, para agamawan lainnya, akan mengais-ngais proyek rekonsiliasi, toleransi dan berpura-pura menjadi pahlawan perdamaian! Mereka disatu panggung besar, mementaskan komedi kemanusiaan.
Para pemimpin agama sibuk menumpuk kekayaan, hidup mewah, keliling dunia, atas nama agama dengan fasilitas dana ummat yang diperasnya itu. Para pemimpin agama itu rata-rata adalah pengangguran, mencari makan dengan mengindoktrinasi kebenaran agama yang dibawahnya, dan hidup penuh kemewahan dari mengatasnamakan Tuhan masing-masing!.
Para pemimpin agama di indonesia bahagia nian, mengajarkan mimpi-mimpi kosong, yang rumit dan berliku-liku. Aturan agama dibuatkan seolah bertingkat-tingkat dan penuh mistis. Bahkan sebagian daripadanya dibumbui kedustaaan, khayalan dan ambiguitas. Waktu-waktu produktif sering digunakan untuk mendengarkan omongkosong, penuh ambisi dan logika yang jomplang.
Ada juga keinginan sebenarnya, untuk masuk saja aliran kepercayaan, tapi lagi-lagi terkendala, bahwa hampir kebanyakan aliran kepercayaan di Indonesia dibesut oleh aroma kesukuan, egoisme kemuasalan, dan kelompok iklan dan kesilsilahan tertentu pula. Cerita-ceritanya kian hari kian klenik, ngelantur dan sulit diterima akal sehat!
Terkadang, terbersit keinginan untuk jadi Atheis saja! Tapi celakanya, untuk jadi atheis mereka harus mengunyah pelajaran teori – teori filsafat, teologi, sejarah peradaban dan sosiologi yang membutuhkan energy, waktu dan pemikiran yang tidak sedikit. Dan itu artinya, buang waktu percuma juga..
Terhenyaklah, dipojok ruang tamu itu. Mau ber-agama merasa tertekan, ikut aliran kepercayaan tidak tahan dupa-dupa, dan mau atheis, harus berlelah lagi untuk berfikir. Waduuh.. di Indonesia, memang hidup serba sulit… (hanya berbagi) .-salam-.
(sebuah posting di FACEBOOK hari ini) 1 Januari 2013
Kelima orang ini, curhat kehadapan sang guru, bahwa mereka kecewa dengan agama yang mereka masuki. Setelah masuk agama yang terjadi mereka malah diperas atas nama agama, ada saja sumbangan yang harus dibayar, bahkan rumah Tuhan pun harus dibuatkan oleh manusia.. ( ini aneh-aneh saja, Rumah Tuhan dibangunkan manusia. Apa Tuhan memang tidak bisa membangun rumahnya sendiri?). Rumah-rumah ibadah dibuat mewah, diantara rakyat yang lapar, miskin dan papa.
Mereka yang dahulu kompak dan sering berbagi, sekarang seolah ada dinding tebal yang membatasi. Para pemimpin agama-agama itu mengajarkan permusuhan, siasat busuk dan egoisme tanpa dasar. Masing-masing agama merasa telah mengklaim surga atau nirwana-nya masing-masing.
Para ummat disuruh berperang bermandi darah, berkorban dengan harta dan jiwanya, sementara Para Pemimpin Agama berdiri mengangkang. Tersenyum dengan jubahnya, seolah tanpa salah dan khilaf. Suci dan Wibawa!. Sandiwara apa ini?
Perilaku institusi dan pemimpin agama masing-masing sungguh sangat menjijik-kan, mengajarkan sesuatu yang berbeda dari perilaku masing-masing. Lihatlah pemimpin agama itu ramai-ramai ketangkap polisi karena kasus korupsi, kenakalan kelamin, dan tindakan pidana lainnya. Mereka bicara tentang akhlak, susila, sopan santun, paramitha, dlsb.
Tapi nyatanya, pertumpahan darah oleh alasan agama kian marak. Satu agama adalah kekejaman bagi agama lainnya. Dan lebih nista lagi, para agamawan lainnya, akan mengais-ngais proyek rekonsiliasi, toleransi dan berpura-pura menjadi pahlawan perdamaian! Mereka disatu panggung besar, mementaskan komedi kemanusiaan.
Para pemimpin agama sibuk menumpuk kekayaan, hidup mewah, keliling dunia, atas nama agama dengan fasilitas dana ummat yang diperasnya itu. Para pemimpin agama itu rata-rata adalah pengangguran, mencari makan dengan mengindoktrinasi kebenaran agama yang dibawahnya, dan hidup penuh kemewahan dari mengatasnamakan Tuhan masing-masing!.
Para pemimpin agama di indonesia bahagia nian, mengajarkan mimpi-mimpi kosong, yang rumit dan berliku-liku. Aturan agama dibuatkan seolah bertingkat-tingkat dan penuh mistis. Bahkan sebagian daripadanya dibumbui kedustaaan, khayalan dan ambiguitas. Waktu-waktu produktif sering digunakan untuk mendengarkan omongkosong, penuh ambisi dan logika yang jomplang.
Ada juga keinginan sebenarnya, untuk masuk saja aliran kepercayaan, tapi lagi-lagi terkendala, bahwa hampir kebanyakan aliran kepercayaan di Indonesia dibesut oleh aroma kesukuan, egoisme kemuasalan, dan kelompok iklan dan kesilsilahan tertentu pula. Cerita-ceritanya kian hari kian klenik, ngelantur dan sulit diterima akal sehat!
Terkadang, terbersit keinginan untuk jadi Atheis saja! Tapi celakanya, untuk jadi atheis mereka harus mengunyah pelajaran teori – teori filsafat, teologi, sejarah peradaban dan sosiologi yang membutuhkan energy, waktu dan pemikiran yang tidak sedikit. Dan itu artinya, buang waktu percuma juga..
Terhenyaklah, dipojok ruang tamu itu. Mau ber-agama merasa tertekan, ikut aliran kepercayaan tidak tahan dupa-dupa, dan mau atheis, harus berlelah lagi untuk berfikir. Waduuh.. di Indonesia, memang hidup serba sulit… (hanya berbagi) .-salam-.
(sebuah posting di FACEBOOK hari ini) 1 Januari 2013
Rabu, 12 Desember 2012
Salah Bikin TUHAN
Maksud judul "SALAH BIKIN TUHAN" adalah kita salah alamat waktu menyembah dan mengirim doa. Niat sebenarnya sih ingin menyembah dan berdoa pada Tuhan alam semesta, tapi karena salah mendefinisikan TUHAN malah jadinya bikin TUHAN baru. Contohnya: kita menganggap TUHAN itu melihat, mendengar, dan berkata. Kalau seperti itu namanya manusia, bukan TUHAN. Jadinya secara pikiran bawah sadar kita mencari sosok manusia yang bisa dijadikan tempat bergantung, seperti bos besar yang banyak uang. Atau orang-orang yang menganggap TUHAN itu Tinggi dan Besar, secara pikiran bawah sadar malah jadi mencari perlindungan preman.
Hubungan tulisan ini dengan gambar di atas adalah jika kita mendefinisikan TUHAN secara salah, maka kita akan mengalami REALITA SEMU. Yaitu seolah-olah tau TUHAN dan seolah-olah TUHAN yang diyakini benar-benar hadir dalam kehidupan kita. TUHAN itu tidak bisa ditemukan, tapi DIA akan mengundang orang-orang yang terus mendekatkan diri kepada NYA melalui pengabdian dan yakin pada TUHAN yang belum dikenalnya. Lalu setelah diundang oleh TUHAN dan kenal dengan NYA, bagaimana kita tau itu bukan ILUSI? Kalo sudah kenal, nanti juga bisa membedakan. Kalo dijawab sekarang nanti salah persepsi. Surya Mandala
Selasa, 06 September 2011
TUHAN, Agama-Mu apa ?
Salah satu temanku di FB memasang pertanyaan itu di profilnya, maka kujawab seperti ini :

Menurutku, TUHAN tidak punya agama. Ada ratusan agama di dunia ini, atau disebut sistem kepercayaan, semua ciptaan manusia. TUHAN tidak membuat atau membutuhkan agama. TUHAN sudah mulia, disembah sejak dulu, sekarang dan selama-lamanya . . . dengan ratusan / ribuan NAMA TUHAN... (ciptaan manusia) - Menanggapi pertanyaan : Tuhan, agamaMu apa?
Menurutku, TUHAN tidak punya agama. Ada ratusan agama di dunia ini, atau disebut sistem kepercayaan, semua ciptaan manusia. TUHAN tidak membuat atau membutuhkan agama. TUHAN sudah mulia, disembah sejak dulu, sekarang dan selama-lamanya . . . dengan ratusan / ribuan NAMA TUHAN... (ciptaan manusia) - Menanggapi pertanyaan : Tuhan, agamaMu apa?
Rabu, 27 April 2011
Ancaman Ketakutan
Saya bersyukur memiliki saudara-saudara yang peduli kepada kehidupan saya. Beberapa orang yang peduli kepada saya memberi nasehat kepada saya, supaya saya hati-hati berkata-kata di Facebook. Saya disarankan supaya jangan begini, supaya jangan begitu. Saya percaya bahwa semua itu disampaikan kepada saya oleh sebab rasa kuatir mereka terhadap perbuatan saya di dunia maya. Saya tidak saja aktip berfacebook, sebelum aktip berfacebook, saya aktip beryahooanswer. Ada juga orang yang tidak setuju saya mencantumkan alamat rumah saya di fb, padahal saya sudah pernah mencantumkan alamat rumah saya dalam sebuah komentar. Sekarang saya ingin lagi mencantumkan alamat rumah saya dalam catatan ini, supaya dikenal oleh banyak sekali orang, supaya alamat saya populer he..he..he...
Oh ya, saya merasa cukup banyak bersahabat dengan orang yang berjiwa radikal. Kalau saya mencantumkan alamat rumah saya dalam catatan ini, itu bukan karena saya ingin menantang siapapun atau bukan karena saya ingin menantang apapun. Saya ini orang yang sangat....sangat ...sangat lemah. Saya ini orang yang sangat...sangat...sangat takut dengan bom atau yang serupa dengan bom. Saya bahkan takut sakit. Aneh....aneh...aneh.....karena merasa sangat lemahlah, saya ingin mencantumkan alamat saya dalam catatan ini.
Ini adalah catatan saya yang ke 19 di Facebook. Bila saudaraku berkenan membaca catatan saya, adalah baik bila saudaraku membaca semua catatan saya berikut seluruh komentar yang masuk. Untuk menghindari komentar-komentar yang serupa.
Oh ya, saya merasa cukup banyak memutuskan persahabatan dengan orang lain melalui Facebook, saya juga merasa cukup banyak memblokir orang lain melalui Facebook. Saya juga merasa sangat...sangat......sangat.....kurang banyak ...kurang banyak ...kurang banyak....menjalin persaudaraan dengan orang lain juga melalui Facebook yang sama. Jumlah sahabat saya di Facebook sekitar 5000 orang, bisa kurang bisa lebih, sekitar 5000 x 5000 x 5000 orang bagi saya masih kurang banyak. Bagaimanapun juga, melalui kesempatan ini saya merasa perlu berterimakasih kepada seluruh manajemen Facebook yang sudah membuat saya memiliki banyak sahabat yang baik dan banyak saudara yang baik di seluruh Nusantara ini. Semoga Facebook akan memberi manfaat bagi begitu banyak sekali orang sampai jumlah yang tidak terhitung oleh sebab banyaknya.
Saya pribadi merasa memiliki niat untuk memuliakan orang lain melalui isi hati yang saya sampaikan dalam catatan-catatan saya. Saya hanya tidak berdaya kalau ternyata orang lain merasa terhina oleh catatan-catatan saya. Saya tidak berdaya untuk mengendalikan hati saudaraku semua supaya saudaraku itu merasa saya muliakan bahkan sampai kepada kehidupan akhirat.
Bagi yang merasa tidak membutuhkan untuk saya muliakan melalui catatan-catatan saya, saya dengan sangat senang hati mempersilahkan saudaraku keluar dari persahabatan dengan saya di Facebook.
Oh ya, ini lho alamat rumah saya, Nama saya sesuai akte kelahiran saya dan sesuai dengan KTP saya adalah .... (dihapus hi hi hi) Jawa Timur Indonesia.
Selamat beraktifitas dengan bersyukur, dengan gembira dan dengan semangat. Amien.
Oh ya, saya merasa cukup banyak bersahabat dengan orang yang berjiwa radikal. Kalau saya mencantumkan alamat rumah saya dalam catatan ini, itu bukan karena saya ingin menantang siapapun atau bukan karena saya ingin menantang apapun. Saya ini orang yang sangat....sangat ...sangat lemah. Saya ini orang yang sangat...sangat...sangat takut dengan bom atau yang serupa dengan bom. Saya bahkan takut sakit. Aneh....aneh...aneh.....karena merasa sangat lemahlah, saya ingin mencantumkan alamat saya dalam catatan ini.
Ini adalah catatan saya yang ke 19 di Facebook. Bila saudaraku berkenan membaca catatan saya, adalah baik bila saudaraku membaca semua catatan saya berikut seluruh komentar yang masuk. Untuk menghindari komentar-komentar yang serupa.
Oh ya, saya merasa cukup banyak memutuskan persahabatan dengan orang lain melalui Facebook, saya juga merasa cukup banyak memblokir orang lain melalui Facebook. Saya juga merasa sangat...sangat......sangat.....kurang banyak ...kurang banyak ...kurang banyak....menjalin persaudaraan dengan orang lain juga melalui Facebook yang sama. Jumlah sahabat saya di Facebook sekitar 5000 orang, bisa kurang bisa lebih, sekitar 5000 x 5000 x 5000 orang bagi saya masih kurang banyak. Bagaimanapun juga, melalui kesempatan ini saya merasa perlu berterimakasih kepada seluruh manajemen Facebook yang sudah membuat saya memiliki banyak sahabat yang baik dan banyak saudara yang baik di seluruh Nusantara ini. Semoga Facebook akan memberi manfaat bagi begitu banyak sekali orang sampai jumlah yang tidak terhitung oleh sebab banyaknya.
Saya pribadi merasa memiliki niat untuk memuliakan orang lain melalui isi hati yang saya sampaikan dalam catatan-catatan saya. Saya hanya tidak berdaya kalau ternyata orang lain merasa terhina oleh catatan-catatan saya. Saya tidak berdaya untuk mengendalikan hati saudaraku semua supaya saudaraku itu merasa saya muliakan bahkan sampai kepada kehidupan akhirat.
Bagi yang merasa tidak membutuhkan untuk saya muliakan melalui catatan-catatan saya, saya dengan sangat senang hati mempersilahkan saudaraku keluar dari persahabatan dengan saya di Facebook.
Oh ya, ini lho alamat rumah saya, Nama saya sesuai akte kelahiran saya dan sesuai dengan KTP saya adalah .... (dihapus hi hi hi) Jawa Timur Indonesia.
Selamat beraktifitas dengan bersyukur, dengan gembira dan dengan semangat. Amien.
Kamis, 14 April 2011
Komentar Anda
Saya merasa layak menerima hujatan sebab isi hati saya dalam catatan-catatan saya. Hujatanpun saya sukai dan saya hargai juga , sebab itu kesempatan bagi saya untuk memuliakan penghujat. Saya merasa memuliakan saudara karena Tuhan, saya hanya tidak berdaya bila saudara tidak merasa saya muliakan. Salam.
[Komentar temanku di Facebook saat berbicara soal 'agama' dan TUHAN, dan hal-hal senada itu...]
[Komentar temanku di Facebook saat berbicara soal 'agama' dan TUHAN, dan hal-hal senada itu...]
Kamis, 24 Juni 2010
Ariel nabi ???
Langganan:
Postingan (Atom)
